“Sinergi semua pihak dalam penyelenggaraan program sanitasi total berbasis masyarakat harus dimulai sejak awal perencanaan, ke pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi program. Juga ada penganggaran dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah desa. SEHATI telah memulai sinergi para pihak dan ini menjadi keberhasilan STBM tingkat kabupaten di wilyah timur Indonesia menuju 5 pilar keberlanjutan”.

Jakarta – Pengalaman berharga ini disampaikan pada acara horizontal learning STBM di Hotel Akmani, 23 Juli 2018, yang diselenggarakan oleh SIMAVI dan Jejaring AMPL. Hadir dalam acara tersebut para champion/natural leader (sebagai agen perubahan di masyarakat) dari Lombok Utara, Lombok Timur, Dompu, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai Barat dan Biak Nufor. Juga tampak para penggerak STBM hingga pemangku kebijakan.

Pengalaman ini berawal dari program SHAW-SIMAVI pada tahun 2015, ketika hanya pilar 1 yang dilakukan. Namun, sejak 2,5 tahun terakhir dalam risetnya, mereka menemukan sebuah strategi baru melalui program Sustainability Sanitation & Hygiene for Eastern Indonesia (SEHATI). Program ini memperkenalkan peningkatan kapasitas berjenjang. Dalam program ini, SIMAVI tidak lagi menjadi implementor langsung, tapi pemerintah daerah menjadi leader bagi pemerintah kecamatan, dan kecamatan melatih pemerintah desa. Di samping itu, advokasi anggaran menjadi sangat penting, karena bagaimanapun keberlanjutan program STBM sangat tergantung dengan komitmen semua pelaku.

“Alur ini jadi sebuah gerakan dan apabila dikawal dengan komitmen kuat akan menghasilkan kontribusi luar biasa,” tegas Helena (YMP).

Faktor lain yang menjadi penentu keberhasilan STBM adalah 3 komponen penting yaitu menumbuhkan kebutuhan di masyarakat, ketersediaan pelayanan kebutuhan mereka hingga lingkungan yang mendukung diperkuat dengan peran perangkat pemerintah daerah hingga penganggaran dalam program STBM.

Namun demikian, program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dengan ratusan pembelajaran tetap saja ada tantangan yang dihadapi. Diantaranya, kurangnya rasa memiliki, dukungan regulasi terutama di sektor pembiayaan, dan lainnya. “Bagaimana memastikan program bisa berlanjut setelah didampingi, butuh waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi menghadapi rendahnya komitmen pemerintah daerah yang fokusnya masih satu pilar yaitu insfrastruktur,” ungkap Catur Nugroho (SIMAVI).

Asken Sinaga (Country Representative SIMAVI Indonesia) juga menegaskan bahwa dengan kebijakan dan anggaran yang meningkat, meski pengembangan wilayah program dalam skala kecil, bakal menjamin kualitas dan keberlanjutan program.

Dr. Imran Nur Ali,Sp.OK (Direktur PL Kemenkes) menambahkan bahwa saat ini Kemenkes dan Pokja pusat ingin memberikan Sustainable STBM award sebagai motivasi dalam keberlanjutan STBM 5 pilar, mulai dari para penggerak hingga kader. Pada tahun 2018, kegiatan ini direncanakan pada September atau Oktober ini. Apresiasi ini dikaitkan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional setiap tahunnya.