Itulah tema live Instagram (IG) seri keempat sekaligus penutup yang dipilih Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) untuk membumikan isu Manajemen Kebersihan dan Kesehatan Menstruasi (MKM) kepada semua orang.

Dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), Manajemen Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi (MKM) masuk pada tujuan 3.7 yaitu memastikan akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk perencanaan, informasi dan pendidikan keluarga, serta mengintegrasikan kesehatan reproduksi kedalam strategi dan program nasional.

Meskipun masuk dalam TPB, namun pada praktiknya menstruasi masih tabu untuk dibicarakan secara terbuka di masyarakat karena dianggap hal yang menjijikan dan hanya urusan perempuan semata.

Riset yang dilakukan oleh Yayasan Plan Internasional Indonesia (YPII) 2018, menunjukkan 63% orang tua tidak pernah menjelaskan tentang menstruasi kepada anak perempuannya. Begitu juga di sekolah, para guru sering alpa untuk menjelaskan menstruasi kepada anak didik sehingga tidak heran bahwa sebanyak 39% anak perempuan pernah mengalami perundungan/bullying oleh teman laki-laki pada saat menstruasi.

Dokter Danar Wicaksono sebagai narasumber dalam live IG ini menjelaskan, dengan semua fakta yang terjadi maka MKM sudah seharusnya tidak menjadi isu ekslusif untuk perempuan semata, tetapi juga perlu diketahui oleh laki-laki.

Maka dari itu pada sesi Live IG kali ini ada keterlibatan laki-laki.”Ketertarikan saya terlibat pada kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan kepada perempuan, tapi ini juga sebagai bentuk mendukung kesetaraan gender,” ujar dokter sekaligus influencer dengan akun IG @dr_danar.

Sebagai salah satu narasumber, Herie Ferdian, perwakilan YPII sekaligus pengurus Jejaring AMPL menjelaskan, alasan ketertarikan Jejaring AMPL pada isu MKM ialah karena isu ini masih sangat butuh perhatian dengan fakta belum luasnya penyebaran informasi, masih banyaknya mitos, hingga minimnya dukungan sarana yang tersedia, seperti ketersedian air bersih, sarana sanitasi dan hygiene yang ramah perempuan.  

Kondisi ini didukung dengan adanya data hasil studi YPII di Jakarta, NTB, dan NTT yang menunjukkan, sebanyak 33% toilet sekolah tidak terpisah antara laki-laki dan perempuan, sehingga para pelajar perempuan merasa tidak nyaman untuk mengganti pembalut di sekolah. Bahkan, kondisi itu diperparah dengan toilet yang tidak bersih, tidak ada lampu, tidak ada sabun, tidak tersedia tempat sampah, dan juga tidak bisa dikunci,” kata Herie

Menurut Herie, live IG ini diadakan sebagai rangkaian kegiatan dari perayaan Hari Kebersihan dan Kesehatan Menstruasi Dunia yang tiap tahunnya diperingati oleh Jejaring AMPL. ”Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kami ingin mengajak semua pihak untuk peduli akan isu ini dan ditengah situasi pandemi kegiatan yang biasanya kami lakukan offline diubah menjadi online,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Silvia Devina, perwakilan lain dari YPII menceritakan, bahwa berdasarkan pengalamannya di lapangan ada banyak kejadian tak terduga yang dialami para remaja perempuan yang tengah mengalami menstruasi. Bukan hanya mendapat ejekan dari teman laki-laki, sehingga merasa malu dan tidak nyaman, mereka juga harus mengikuti berbagai mitos yang ada.

 “Di NTT anak perempuan yang mengalami menstruasi tidak diperbolehkan melakukan banyak hal, mulai dari tidak boleh keramas, potong kuku, pergi ke sawah, hingga bikin kue. Kepercayaan turun temurun menyakini bahwa bila mereka pergi ke sawah akan membuat gagal panen, dan jika mereka membuat kue maka adonan akan tidak mengembang dan gagal.  Mitos-mitos menyesatkan ini beredar di masyarakat dan membuat perempuan menjadi lebih tidak nyaman” ungkap Silvia.

Menurutnya, buruknya kondisi sanitasi di sekolah membuat 79% pelajar perempuan mengaku tidak pernah mengganti pembalut di sekolah. Bahkan, kondisi itu juga membuat para pelajar perempuan harus kehilangan waktu belajar selama 1 hari setiap bulannya, terutama saat mereka mengalami menstruasi di hari pertama.

 “Alasan yang banyak disampaikan karena merekan merasa tidak nyaman, ada rasa sakit, malu, dan juga takut diledek,” tuturnya.

Untuk mengatasi hal ini, YPII pun melakukan beragam upaya mulai dari advokasi kepada pihak terkait, membantu penyediaan sarana sanitasi di sekolah, termasuk untuk teman-teman pelajar penyandang disabilitas, serta melakukan edukasi dan sosialiasi pentingnya MKM kepada para pelajar, baik siswa perempuan maupun laki-laki.

Kembali berbicara mengenai menstruasi, Dokter Danar menyampaikan, ketika mengalami menstruasi seharusnya orang tua atau remaja perempuan harus berlega hati karena itu sebagai penanda organ reproduksi dan hormon berfungsi dengan baik.

“Jika kita ulas mengenai mitos yang banyak membatasi aktivitas perempuan saat menstruasi itu justru bisa dibilang tidak tepat, karena jika kita tetap melakukan aktivitas seperti olahraga saat menstruasi itu justru akan memperlancar. Dengan tetap beraktivitas diyakini juga bisa mengalihkan pikiran sehingga tidak akan terasa nyeri,” papar dokter yang memiliki 127 ribu follower ini.

Dalam diskusi ini, Dokter Danar juga mengimbau agar kita semua bisa peduli akan isu MKM ini. Cari informasi yang benar dan tepat terkait menstruasi, sehinga tidak terjebak dalam mitos-mitos yang ada.

Bila ada pertanyaan atau ada kondisi yang membuat tidak nyaman  jangan ragu untuk konsultasi dengan orang tua atau dokter. Cara lainnya bisa juga dengan mencari referensi dari sumber terpercaya seperti di akun IG @mkm.indonesia atau @planindonesia.

“Mulai sekarang, tidak perlu lagi merasa malu, takut, atau bingung saat mengalami menstruasi karena menstruasi adalah hal alami yang dialami seluruh perempuan. Bagi laki-laki edukasi menstruasi juga penting, agar bisa lebih menghargai, sehingga kedepannya bisa tercapai kesetaraan gender” pungkas Dokter Danar menutup diskusi online yang berlangsung pada 18 Mei 2020 kemarin.