Mempraktikkan pendekatan STBM dalam kondisi kebencanaan merupakan sebuah area baru yang perlu dijajaki. Setelah STBM sukses diterapkan diberbagai wilayah Indonesia dalam kondisi normal, kini keberhasilan ini akan dicoba dalam situasi bencana. Intinya, melalui STBM masyarakat diharapkan juga dapat bangkit, berdaya, dan bertanggungjawab atas kondisi lingkungannya demi menghindari outbreak penyakit.

STBM dapat pula berperan dalam kondisi emergensi/ darurat mengingat adanya tantangan kebersihan diri dan lingkungan yang muncul di tempat pengungsian. Selain itu pendekatan STBM dapat menjadi sarana trauma healing  bagi para penyintas yang masih dirundung suasana duka dan tidak menentu.

Untuk mengoptimalkan peran tersebut diperlukan penyatuan visi, arah dan pesan terkait STBM mengingat banyaknya organisasi pegiat STBM yang bekerja di lokasi pengungsian. Di NTB, paska gempa Lombok, terdapat sekitar 50 lembaga yang bergerak dibidang air minum dan penyehatan lingkungan, sementara di Sulawesi Tengah ada 70 lembaga.

“Masing-masing lembaga memiliki perbedaan pendekatan, cara dan pesan yang disampaikan. Ini tantangannya dan harus disinkronkan. Pemicuan CLTS harus berfokus untuk stop BABS. Penyuluhan kesehatan perlu juga satu arah dan penyuluh kesehatan perlu dioptimalkan paska bencana,” ungkap Wahanudin, Kasubdit Persampahan dan Drainase Direktorat Perumahan dan Permukiman (Perkim) Bappenas, saat acara dalam acara Finalisasi Modul dan Media KIE STBM untuk Kondisi Darurat Bencana (10-11 Januari 2019) di Bogor, yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Unicef, Yayasan Plan Internasional Indonesia, Wahana Visi, Jejaring AMPL dan SPEAK Indonesia, di Bogor. Hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Bappenas, BNPB, Kemensos, PMI, KemenPUPR, Dinas Kesehatan dari beberapa propinsi dan kota, SNV, dan STC

Air bersih dan sanitasi harus ditangani dalam kedaruratan. Para penyintas sangat membutuhkan air untuk minum, untuk mandi dan cuci. Kekurangan air akan memberi dampak bagi kesehatan penyintas seperti kekurangan cairan dan penyakit kulit. Sanitasi lingkungan pun harus dioptimalkan agar tidak berdampak pada kesehatan fisik dan psikis para penyintas. Kondisi pengungsian yang kotor dan berbau dengan sampah berserakan akan membuat para penyintas tertekan/ depresi.

Kebutuhan air bersih, sanitasi dan hygiene juga menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam presentasinya, perwakilan BNPB Bapak Johny mengungkapkan bahwa BNPB telah mengeluarkan pedoman bantuan air bersih, sanitasi dan higiene dalam kondisi darurat.

“BNPB ingin memastikan pemberian bantuan tersebut dilakukan sesuai prinsip cepat, tepat, prioritas, transparat, tidak membawa agenda terselubung seperti penyebaran agama. Sebelum pemberian bantuan harus dilakukan kajian cepat agar terpat sasaran,” ungkap pak Johny.

“Pedoman yang sudah dikembangkan oleh BNPB kiranya dapat juga sejalan dengan modul dan media informasi STBM yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan ini. Dan sinergi BNPB dengan kementerian dan organisasi pegiat STBM dalam bentuk jejaring atau forum dapat dibentuk sebagai bentuk mitigasi bencana yang terkoordinir,” lanjutnya.

Oleh karena itu, dalam kondisi darurat ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Diperlukan persamaan dalam pendekatan, metode, dan pesan kunci yang sama pada isu air minum dan penyehatan lingkungan. Tiap organisasi sebaiknya berkoordinasi dan tidak menggunakan cara mereka masing-masing.

Mobilisasi relawan dari organisasi masyarakat dapat dilakukan juga seperti terlihat dari banyaknya antusiasme organisasi atau pribadi yang ingin berbagi tenaga dan pikiran untuk membantu saudara mereka yang sedang dilanda bencana. Relawan ini pun perlu diorientasi agar bekerja sesuai dengan arah kebijakan yang ditetapkan pemerintah setempat.

Pola pendekatan STBM sebaiknya partisipatif dan menyenangkan. Kondisi pengungsi yang sedang down perlu dipicu dengan kegiatan yang penuh gerak dan aktivitas. Kegiatan STBM diharapkan partisipatif, memberdayakan dan menyenangkan. Lewat modul dan media poster yang sedang disiapkan Kementerian Kesehatan selama bulan Januari 2019 ini, kegiatan penyehatan lingkungan akan melibatkan penyintas untuk perubahan perilaku menuju semakin sehat dan bersih. ***