Sebagai dokter yang bertugas menangani langsung pasien Covid-19 di RS Darurat Wisma Atlet, dr. An’umillah Arini Zidna menceritakan pengalamannya saat harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat menstuasi. Nah kita simak yuk, bagaimana wawancara kami dengan dokter muda ini.

Tanya: Dok, apakah diperbolehkan untuk mengganti pembalut saat tengah bertugas dan mengalami menstruasi?

Jawab: Sebagai dokter yang bertugas menangani langsung pasien Covid-19 di RS Darurat Wisma Atlet, saya tetap harus mengenakan seperangkat alat pelindung diri (APD) medis lengkap ketika saya menstruasi.

Saya bersama rekan dokter lain yang juga tengah mengalami menstruasi harus berpakaian tertutup lengkap sepanjang shift kerja selama 8 jam. Sepanjang jam kerja, kami tidak diperkenankan membuka pakaian pelindung sama sekali. Kami tidak makan, tidak minum, harus menahan rasa ingin buang air kecil, apalagi buang air besar. Tidak sedikit dari kami yang harus menggunakan popok dewasa sekali pakai saat bertugas, karena seringkali sulit menahan buang air kecil. Dengan perlengkapan seperti itulah kami melaksanakan tugas penanganan pasien. Baik yang di instalasi gawat darurat (IGD) maupun yang di ruang rawat inap.

Tanya: Boleh jelaskan kepada kami ada berapa lapis APD yang digunakan saat dokter bertugas?

Jawab: Kurang lebih 2-3 lapis yaitu, lapis pertama saya mengenakan setelan baju operasi. Di lapis kedua, saya menggunakan baju pelindung yang menutup dari kepala hingga ujung kaki. Daerah muka ditutup masker rangkap 3, kacamata pelindung, dan perisai wajah. Tangan memakai sarung tangan, dan di luar sepatu mengenakan pelindung khusus.

Tanya: Bagaimana rasanya dok, saat mengenakan APD, terlebih saat mengalami menstruasi?

Jawab: Rasanya bagaimana? Duh, jangan tanya deh. Kalau bertugas di IGD, tantangan terbesarnya adalah menahan keinginan sering buang air kecil. AC di IGD itu sangat dingin. Biarpun kami pakai baju rangkap-rangkap, dinginnya masih terasa sampai ke tulang. Makanya kami jadi jarang minum, supaya tidak sering pipis.

Sebaliknya kalau giliran tugas di bangsal pasien, kami sangat kepanasan. Pertama, kami harus naik turun tangga ke lantai yang berbeda-beda. Kedua, pemakaian penyejuk udara di ruang rawat inap sangat dibatasi. Hal ini untuk membatasi sirkulasi udara berlebihan yang membuat virus dan kuman malah beredar terus di dalam ruangan. Selain kepanasan, tenggorokan kami tidak nyaman dan kering. Sebab, kami harus berbicara keras-keras dengan pasien. Kami pakai masker rangkap-rangkap, ditambah perisai wajah. Kalau tidak berteriak, pasien tidak dapat mendengar kami.

Nah, terbayang kan bagaimana kalau kami, anggota tim medis yang perempuan, sedang mengalami menstruasi? Menstruasi saat harus pakai APD itu sesuatu! Saya mengalami sendiri. Waktu itu di awal banget RS Darurat ini berdiri, saya mengalami menstruasi! Perut sangat tidak nyaman dan darah yang keluar sangat banyak. Waktu itu saya hanya memakai pembalut rangkap yang ukuran besar. Takut tembus. Sempat iritasi juga setelah beberapa hari karena 8 jam tidak mengganti pembalut. Padahal idealnya ganti pembalut paling tidak setiap 4 jam. Anggota tim medis masih sangat sedikit. Jadi saya harus mengabaikan rasa tidak nyaman akibat menstruasi ini. Demi tugas menyelamatkan pasien.

Alhamdulillah sekarang sudah tersedia logistik khusus celana pembalut sekali pakai. Dipakainya lebih nyaman dan tidak mudah tembus. Selain itu, setiap menjelang menstruasi, saya minum obat antinyeri untuk mencegah rasa nyeri atau tidak nyaman terkait menstruasi.

Nah sekian dulu ya wawancara singkat kami dengan dr. An’umillah, semoga cerita ini bermanfaat untuk semua para pengikut dan pembaca setia cerita/informasi di website Jejaring.

Sekadar informasi wawancara ini dilakukan sebagai rangkaian peringatan Hari Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi Dunia/ Menstrual Hygiene Day (MHD) pada 28 Mei 2020 mendatang yang sejak tahun 2017, telah diperingati setiap tahunnya oleh Jejaring AMPL Nasional.

Pewawancara: Yulfarida Arini/ Speak Indonesia

Editor: Cheerli