Puncak rangkaian kegiatan Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia (MHD/Menstrual Hygiene Day) 2020 yang dilaksanakan Jejaring AMPL yaitu webinar dengan tema “Champion MKM Berbagi Cerita” telah rampung dilaksanakan pada 8 Juni 2020 lalu.

Dibuka oleh Ketua Jejaring AMPL yang juga menjabat sebagai Kasubdit Sanitasi, Direktorat Perkotaan, Perumahan dan Permukiman, Bappenas, Laisa Wahanudin,  acara webinar ini diikuti setidaknya oleh 140 orang peserta yang berasal dari berbagai daerah.

Total narasumber dalam webinar ini berjumlah 11 orang yang terdiri dari 7 champion/pegiat MKM, 1 orang pewakilan Unicef, 1 orang perwakilan swasta dari Rentokil Initial Indonesia, dan 3 orang penanggap yang berasal dari 3 kementerian yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Agama.

Dalam sambutannya, Wahanudin menyampaikan, webinar ini diselenggarakan bukan sebatas rutinas Jejaring AMPL yang setiap tahunnya memperingati MHD, tetapi juga dilakukan untuk mengedukasi banyak pihak akan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih sehat, termasuk dalam menjaga kebersihan dan kesehatan menstruasi.

Wahanudin menyampaikan, berkaitan dengan kondisi pandemi yang saat ini terjadi, seluruh rangkaian MHD 2020 yang terdiri dari 7 kegiatan utama yaitu perlombaan (menulis, foto, dan video), pelatihan online (menulis, foto, dan video), survey U-report, live Instagram, video MKM Talks, kampanye online, dan webinar semua dilaksanakan secara online. Secara keseluruhan total peserta/viewer/responden dari semua rangkaian acara juga cukup fantastis yaitu mencapai mencapai 23.687 orang.

“Dalam kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung MHD 2020. Harapan kedepannya semoga semakin bahwa pihak yang tahu, paham, dan akhirnya bergerak bersama untuk membumikan isu kebersihan dan kesehatan menstruasi,” ujarnya.

Cerita dari Lapangan

Pada sesi berbagi pembelajaran, Lia Nurmala, Mentor MKM Kabupaten Tangerang, menyampaikan, di tengah pandemi ini Kabupaten Tangerang juga banyak mengalihkan kegiatan dari offline menjadi online, termasuk dalam kegiatan sosialisasi isu Manajemen Kebersihan dan Kesehatan Menstruasi (MKM).

“Di tengah pandemi ini, sebagai mentor kami tetap melakukan pendampingan kepada para siswa dan guru, dengan salah satu materi yang diberikan ialah terkait kesetaraan gender, dimana keterlibatan laki-laki dalam menyampaikan isu MKM bukanlah hal tabu,” jelas Lia.

Disampaikan pula, terkait isu MKM, Bupati Tangerang, Zaky Iskandar memberikan dukungan penuh, sehingga semua kegiatan yang dilakukan bisa berjalan dengan lancar. “Melalui kegiatan Sanitasi Sekolah, semua sekolah di Kabupaten Tangerang kini concern menyediakan akses sanitasi layak, termasuk yang ramah MKM. Jadi saat ini, kamar mandi sekolah sudah menyediakan pembalut, tempat sampah tertutup, dan kaca,” tambahnya.

Sementara itu, Vincent Kiabeda, Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia, menceritakan  bila kondisi implementasi MKM di Kabupaten Malaka dan Kabupaten Belu, terutama di tengah pandemi ini masih belum optimal karena masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Meski demikian, pihaknya juga tetap melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pemda agar semua tantangan bisa diatasi. “Hasil pun tak mengkhianati proses, karena saat ini kami sudah bisa melakukan kampanye STBM-MKM di 72 desa di Kabupaten Malaka dan Kabupaten Belu, sehingga dengan itu makin banyak warga yang paham dan mengerti akan pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk dalam isu MKM,” cerita Vincent.

Kisah lain datang juga dari Kabupaten Lombok Utara, Ketua Tim MKM, Undar Jiwa Ningsih mengatakan,  sepanjang pihaknya melakukan sosialiasi MKM dari tahun 2016 hingga saat ini, kondisi paling sulit dirasakan yaitu ketika tahun 2017 saat terjadinya bencana gempa yang menyebabkan banyak fasilitas sekolah rusak, termasuk toilet.

“Pada masa bencana, kegiatan sosialisasi sangat berat dilakukan karena fasilitas tidak mendukung. Namun, untuk memastikan sarana tetap tersedia, kami menjalin kerjasama dengan tim desa untuk melakukan distribusi hygiene kit, termasuk memberikan pembalut kepada masyarakat. Tujuannya agar kebutuhan MKM bisa tetap terpenuhi oleh warga, terutama para perempuan di tengah kondisi bencana yang melanda,” ucapnya.

Disisi lain, menjawab isu  MKM dari teman-teman disabilitas, Koordinator Persatuan Tuna Daksa Kristiani, Serafina Bete, berharap kedepannya teman-teman disabilitas bisa dilibatkan, sehingga bentuk materi-materi edukasi dan kampanye yang dihasilkan juga bisa ramah disabilitas.

Menurutnya, jangan hanya melibatkan teman-teman disabilitas sebagai objek tetapi juga sebagai subjek pembangunan dalam setiap isu, termasuk dalam sanitasi dan MKM ini. “Keterlibatan disabilitas itu sangat penting, karena bicara disabilitas harus melibatkan disabilitas, tidak bisa diwakilkan oleh orang non-disabilitas, karena kami sendiri yang mengetahui kebutuhan kami sebagai disabilitas,” ujarnya.

Sementara itu, Vinsensiana Jemiun, Guru SMP di Kabupaten Manggarai Barat mengucapkan, dalam edukasi MKM peran orang tua dan guru sangat penting, karena mereka akan mendampingi para siswa, terutama para pelajar perempuan agar mereka mendapatkan informasi yang benar terkait menstruasi.

Terkait hal ini, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kabupaten Manggarai, menjelaskan bahwa melalui Yayasan Ayo Indonesia dan Yayasan Plan Internasional Indonesia, pihaknya telah melakukan sosialisasi berjenjang di tingkat kecamatan yang melibatkan para pihak terkait, mulai dari kepala sekolah, guru, orang tua,komunitas,  dan dinas terkait lain dengan tujuan agar semua pihak memahami dan mendukung kebijakan MKM.

Dari sisi kementerian, Kepala Sub Direktorat, Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan, Wara Pratiwi mengungkapkan, pihaknya sangat memberikan apresiasi tinggi kepada semua daerah yang sudah melakukan implementasi kebijakan MKM.

 “Kami dari kementerian kesehatan dan kementerian pendidikan dan kebudayaan telah berusaha memasukkan MKM dalam kurikulum tingkat SMP dan SMA. Kami berharap setelah pandemi ini bisa dimasukkan ke kurikulum SD, selambatnya awal tahun depan semoga semuanya selesai,” kata Wara.

Selain itu, dari perwakilan dari Direktorat KSKK Madrasah, Kementerian Agama, Zulkifli menjelaskan, pihaknya telah melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mendukung implementasi MKM melalui kantor-kantor kementerian agama di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Disamping itu, Kemenag juga menjalin kolaborasi dengan kementerian terkait. “Harapan kedepannya akan muncul juga champion-champion dari madrasah yang bisa menjadi juru bicara dan juga menyebarkan semangat MKM,” pungkasnya.