Data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2017 menyebutkan populasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta telah mencapai 10.374.235 jiwa. Kepadatan penduduk ini memicu berbagai masalah terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Tercatat setidaknya 475 ribu jiwa (117 ribu KK) tidak mempunyai tangki septik di Jakarta, sehingga warga masih mempraktikkan buang air besar sembarangan (BABS). Salah satu dampaknya adalah tercemarnya sungai di Jakarta sehingga tidak dapat berfungsi sebagai sumber air baku. Dalam upaya percepatan pencapaian 100% Open Defecation Free (ODF) atau terbebas dari praktik BABS, dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Upaya kolaborasi dalam penanganan sanitasi sudah berlangsung lama di Jakarta namun masih jarang terjadi kolaborasi yang melibatkan secara langsung pihak swasta melalui pendanaan Corporate Social Responsibility (CSR).

Melihat kondisi tersebut, saat ini sedang diliris program SIMASKOTA (Sanitasi  untuk Masyarakat Kota) DKI Jakarta 2018. Program ini adalah kolaborasi multipihak antara Pemerintah DKI Jakarta, APP Sinarmas, konsorsium SPEAK Indonesia dan YPCII selaku pelaksana program, serta didukung USAID IUWASH PLUS. Wilayah intervensi adalah kelurahan Tebet Timur, kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, dan kelurahan Pademangan Barat, kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Program SIMASKOTA sekaligus sebagai titik temu Forum Kolaborasi Air dan Sanitasi Jakarta sebagai strategi percepatan Jakarta bebas BABS.

Maka dari itu, sebagai langkah awal, diadakan Lokakarya bertajuk “Berkolaborasi Menuju Sanitasi Jakarta Sehat” yang diadakan pada tanggal 16 Januari 2019 di Ruang Seribu Wajah, Lt. 22 Balai Kota DKI Jakarta. Lokakarya ini mengundang kementerian dan dinas/OPD terkait, para walikota, asosiasi profesi, kecamatan, Puskesmas, kelurahan, perwakilan masyarakat, perusahaan, NGO lokal dan internasional serta mitra terkait lainnya.

Deputi Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa, MURP hadir untuk membuka lokakarya ini. Menurut Oswar, kolaborasi multipihak seperti SIMASKOTA DKI Jakarta yang melibatkan pemerintah, NGO, dan CSR swasta sangat dibutuhkan untuk menjawab masalah sanitasi terutama kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS). Jakarta juga memiliki grand design penyediaan sanitasi air limbah domestik. Pilar 1 STBM yaitu stop buang air besar sembarangan merupakan langkah pertama sebelum 4 pilar lainnya. Sebelum infrastruktur dibangun, perilaku warga untuk meninggalkan BABS harus dibangun terlebih dahulu.

Narasumber dari talkshow lokakarya adalah Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan   Olahraga Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr. Dicky Alsadik, Head of Footprint and Social Compliance APP Sinarmas Sera Noviany, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Dini Wardiani, dan Asisten Deputi Lingkungan Hidup, Ir. Yuli Hartono, MTP. dr. Dicky membahas mengenai kondisi sanitasi di Jakarta dan capaian program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang saat ini juga sedang digarap oleh Puskesmas-Puskesmas di DKI Jakarta. Selain itu, sebuah Keputusan Gubernur tentang STBM sedang digodok, dan harapannya dengan adanya KepGub STBM ini, SKPD yang lain juga mulai menganggarkan sesuai tupoksinya masing-masing. Sera dari APP Sinarmas juga menyampaikan komitmen APP Sinarmas untuk berkontribusi di bidang air dan sanitasi lahir dari APP Sinarmas Sustainability Vision Roadmap 2020.

Sebagai penanggap adalah Lurah Duri Utara, Denny, dan Lurah Pekojan, Tri Prasetyo, yang telah memiliki pengalaman untuk sanitasi termasuk dalam hal ini deklarasi kelurahan STBM. Selain itu, Lurah dari Tebet Timur, Yunaenah, dan Lurah Pademangan Barat, Dini Paramita, yang saat ini menjadi penerima manfaat SIMASKOTA menunjukkan optimisme dan siap meneruskan keberhasilan dari dua kelurahan sebelumnya. Pada akhir lokakarya, peserta menandatangani komitmen bersama untuk berkolaborasi menuju sanitasi Jakarta Sehat. Pada pidato penutupannya, Oswar Mungkasa juga menyampaikan dukungannya terhadap Forum Kolaborasi Air dan Sanitasi Jakarta yang akan melakukan pertemuan perdana pada bulan Februari mendatang dengan dibantu oleh Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Nasional. Terakhir, Oswar menegaskan pentingnya kolaborasi dan aksi bersama dalam forum tersebut untuk bekerja meraih Jakarta yang 100% bebas buang air besar sembarangan/Open Defecation Free (ODF).