73 tahun sudah Indonesia merdeka, kian hari negeri khatulistiwa ini pun semakin berkembang, bahkan eksesistensinya pun telah diakui dunia. Indonesia pun telah resmi menjadi anggota dari beberapa organisasi terkemuka dunia, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Association of Southeast Asian National (ASEAN), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC),  dan Kelompok G-20.

Bukan hanya itu, membaiknya perekonomian juga telah membuat nama Indonesia makin dikenal dikancah internasional. Pada Konferensi Pers APBN 2018, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan, perkembangan ekonomi Indonesia masih cukup positif, bisa dilihat dari inflasi yang stabil pada angka 3,2%. Dalam situs resminya, Bappenas juga menyampaikan, perekonomian Indonesia pada triwulan II 2018 ini mampu tumbuh sebesar 5,3 persen.

Pada kesempatan lain, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menyampaikan bahwa Indonesia telah membuktikan telah tumbuh menjadi negara yang luar biasa. Terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang telah menembus USD 1 triliun per tahun. Bahkan, PDB ini menjadikan Indonesia masuk dalam grup trillion dollar club. “Ini menunjukkan bahwa Indonesia mengarah kepada ekonomi besar dunia,” katanya di acara High-Level International Conference, Jakarta.

Ditengah semua perkembangan ini, sayangnya perkembangan akses sanitasi sebagai kebutuhan dasar masih jauh dari kata sempurna. Paparan Direktur Perkotaan, Permukiman dan Perumahan, Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti mengatakan, hingga 2015 capaian akses sanitasi Indonesia hanya sebesar 62%, angka ini jauh dibawah Filipina yang sudah mencapai akses sampai 75% di tahun yang sama. Dengan posisi itu, Indonesia pun masuk peringkat 5 negara dengan akses sanitasi terendah di Asia.

Kondisi sanitasi Indonesia ini diperparah dengan masih banyak masyarakat yang melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Data Susenas 2017 mencatat, angka BABS di negara ini masih mencapai 10,41%.

Angka itu menunjukkan setidaknya ada 69 juta rumah tangga Indonesia yang melakukan praktek BABS setiap harinya di bantaran sungai, kali, waduk, pantai, empang, kebun, hutan, atau tempat lainnya yang terkadang tidak terfikir oleh kita.

Bila dalam satu rumah tangga terdiri dari 3-4 jiwa, artinya ada ratusan juta penduduk yang melakukan praktek BABS. “Silahkan saja bapak ibu bayangkan berapa banyak warga yang buang air besar sembarangan setiap harinya. Praktek ini bukan hanya sudah terbukti mencemari lingkungan, namun juga dapat mengancam kesehatan,” jelas Virgy pada acara Lokakarya Advokasi dan Promosi Sanitasi.

Lebih dari itu, buruknya sanitasi juga telah menyebabkan banyak kerugian, seperti kerugian ekonomi, meningkatkan risiko penyebaran penyakit, hingga menjadi salah satu penyebab stunting.

Pengertian BABS, bukan hanya sebatas buang air besar di sembarang tempat saja, namun juga mengacu pada perilaku masyarakat yang buang air besar di jamban tanpa dilengkapi dengan tangki septik, atau jamban dengan tangki septik yang tidak pernah disedot, bahkan bocor dan merembes hingga mencemari air tanah.

Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Imran Agus Nurali membenarkan bahwa lingkungan buruk, termasuk sanitasi tidak layak menjadi salah satu penyebab stunting. “Maka dari itu, tidak ada alasan lain untuk tidak lagi peduli akan pembangunan sanitasi,” ujarnya pada acara Lokakarya Review STBM.

Senada dengan itu, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek pada acara STBM Award sependapat bahwa akses sanitasi dan air bersih harus mendapat perhatian khusus, karena keduanya merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan setiap hari. “Setelah bencana Palu saja, kebutuhan yang paling diteriakan adalah kebutuhan untuk air bersih, karena dengan itu mereka bisa melanjutkan hidup,” katanya.

Seperti diketahui akses sanitasi dan air bersih itu saling berkaitan, terutama dengan sumber air tanah. Dengan sanitasi layak maka bisa dipastikan sumber air di daerah tersebut akan aman dan terbebas dari bakteri, namun jika akses sanitasi buruk maka kondisinya pun akan mengikuti.

Staf Direktorat Perkotaan, Perumahan dan Permukiman, Bappenas, Aldy Mardikanto menerangkan, telah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kondisi sanitasi.

“Saat ini tengah dikembangkan sistem pengelolaan air limbah terpusat di beberapa wilayah. Selain itu, pemerintah bersama mitra pembangunan juga telah meluncurkan berbagai inovasi program percepatan pembangunan sanitasi baik di kawasan perdesaan maupun perkotaan,” kata Aldy seperti dikutip dari Majalah Percik 2018.

Meski begitu, Aldy menambahkan dalam meningkatkan kondisi sanitasi bukan hanya pembagunan sarana saja yang dibutuhkan, namun juga diperlukan peningkatan pemahaman kepada masyarakat. Tujuannya agar rasa kepemilikian tumbuh dan akhirnya masyarakat dengan sukarela menjaga sarana yang telah dibangun. Seperti diketahui ada banyak sarana sanitasi umum yang nasibnya kini terbengkalai dan tidak terawatt.

Berangkat dari itu semua, Ika Fransisca BC/Marketing Advisor, USAID IUWASH Plus memberikan sedikit tips dalam pemasaran atau sosialiasi sanitasi kepada masyarakat. Menurutnya, seiring berkembangnya jaman dan teknologi, masyarakat kini semakin pintar karena informasi menjadi kian muda didapat.

Maka dari itu, bentuk edukasi atau pemahaman yang diberikan sebaiknya tidak dengan cara menggurui atau memaksa. “Tetapi lebih seperti saling bertukar informasi atau berdiskusi. Dengan begitu, biasanya masyakat akan lebih menerima,” jelasnya saat diwawancarai.

Sampai saat ini sanitasi memang masih dipandang sebagai isu kurang menarik, beberapa pakar berpendapat hal itu terjadi mungkin karena masih banyak para pemegang kebijakan yang beranggapan efek pembangunan sanitasi tidak bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Pengamat lingkungan dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menyayangkan kondisi tersebut, pasalnya masalah yang ada di sektor lingkungan bisa berakibat masalah lain, seperti ekonomi, kesehatan, bahkan sosial. “Jika lingkungan baik, maka kualitas sosial dan ekonomi akan berdampak baik pula, saya melihat ada pola pikir yang terbalik di tengah masyarakat, dimana mereka melupakan sebab dan mengedepankan akibat,” ujarnya.

Dari semua kenyataan yang ada, rasanya sudah cukup diakui bahwa pembangunan sanitasi mutlak dilakukan, karena itu merupakan kebutuhan dasar yang tak terbantahkan. Begitu banyak kerugian akibat kondisi sanitasi buruk, dan sebaliknya akan banyak manfaat dari kondisi sanitasi baik. Sebagai negara yang terus berkembang sudah seharusnya pembangunan sanitasi dijadikan prioritas, jangan sampai kelalaian itu membuat Indonesia terus diintai ancaman tinja yang merugikan.

Cheerli | Jurnalis Sanitasi