Hujan rintik-rintik di pagi hari tidak menyurutkan semangat siswa-siswi kelas 6 SD 1 Sepang Jaya, Bandar Lampung, untuk mengikuti kegiatan yang digagas oleh Forum Youth with Sanitation Concern (YSC) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Lampung.

Sabtu, 3 Agustus 2019, 2 forum pemuda ini berkolaborasi untuk melakukan edukasi dan promosi kepada para siswa-siswi sekolah dasar tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM). Caranya pun cukup berbeda dengan yang lain, karena para mahasiswa ini melakukan edukasi melalui metode bercerita atau mendongeng.

OKE MEN, Opera Edukasi Menstruasi, begitulah kegiatan mendongeng menstruasi itu dikenal. Menurut Dicky, perwakilan dari YSC, ide berkolaborasi muncul dari keikutsertaannya dalam pelatihan fasilitator MKM di Jakarta pada April lalu, sebagai rangkaian kegiatan Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia 2019.

Bersama Tria, anggota HMJ Sosiologi Unila, Dicky pun menyiapkan konsep edukasi yang menyenangkan dan mudah diterima pelajar di bangku sekolah dasar, hingga lahirlah OKE MEN. Melaksanakan OKE MEN ternyata tidak semudah munculnya ide, karena kenyataannya, bercerita kepada anak-anak bukanlah hal yang mudah. Minat dan konsentrasi mereka perlu dijaga sepanjang cerita. Kendati begitu, YSC dan HMJ Sosiologi tak patah semangat, mereka akhirnya menyusun strategi untuk mengatasi tantangan ini.

Cerita diawali dengan perkenalan tokoh dan bernyanyi bersama, dilanjutkan dengan menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi Sinta (tokoh utama) ketika pertama kali menstruasi. Nah, untuk memastikan anak-anak tetap memperhatikan, mereka pun diberi kesempatan berdiskusi dan mengusulkan solusi untuk Sinta. Setelah itu, dongeng dilanjutkan dan diakhiri dengan demonstrasi interaktif dari kader kesehatan yang menjelaskan proses dan siklus menstruasi, berbagai jenis pembalut, serta tips menjaga kebersihan diri ketika menstruasi.

Melalui kombinasi metode tersebut, mereka juga bisa dengan efektif menyampaikan pesan-pesan utama tentang menstruasi, mulai dari aspek biologis, pentingnya peran ayah dan ibu sebagai sumber informasi dan penyedia sarana di rumah, serta perilaku anak laki-laki yang baik ketika temannya menstruasi. Tak lupa pula diberikan tips menghadapi pre-menstrual syndrome (PMS).

Harapannya, melalui dongeng ini, murid perempuan mendapatkan informasi yang tepat tentang menstruasi dan MKM, dan murid laki-laki bisa meningkatkan empati mereka dengan tidak melakukan bully kepada teman perempuannya.

Tidak berhenti sampai di sini, YSC dan HMJ Sosiologi berencana untuk melalukan kolaborasi berikutnya. Belajar dari pengalaman pertama, dalam waktu dekat ini mereka berencana mendongeng untuk anak-anak di Pulau Pasaran, Bandar Lampung, dan tentunya akan menyesuaikan pesan dan skenario dongeng dengan kondisi lingkungan anak-anak tersebut.

SNV, YSC, dan HMJ Sosiologi menyadari bahwa untuk menjaga keberlanjutan dan membawa dongeng ini ke skala yang lebih besar, pemerintah daerah memegang peranan kunci. Mereka bertanggung jawab penuh dalam menciptakan tata kelola yang baik untuk praktik MKM, termasuk menerapkan Panduan Nasional MKM di semua sekolah sebagai upaya memperbaiki kondisi sanitasi dan kebersihan, serta bentuk perhatian khusus pada kebutuhan perempuan dan anak perempuan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).

Tentunya, upaya ini perlu didukung oleh sinergi para pemangku kepentingan lainnya, seperti sekolah, tokoh masyarakat & agama, LSM, hingga media. Langkah ini memang tidak mudah, namun dengan semangat kolaborasi dari semua pihak, bukan hal mustahil bahwa sesuai dengan komitmen Indonesia untuk TPB/SDGs, tahun 2030 mendatang semua perempuan dan anak perempuan dapat mengelola menstruasinya dengan aman, nyaman, dan bermartabat.

Saniya Niska, SNV