“Bisnis sanitasi itu akan hidup selama orang butuh jamban,” begitulah ujar Siman seorang pengusaha sanitasi dari Desa Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan.

Tanjung sari merupakan salah satu lokasi dari program Mendukung STBM di Provinsi Lampung yang dilaksanakan SNV dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan selama tahun 2014-2017.

Sebagai salah satu wilayah penghasil karet terbesar, desa ini otomatis didominasi oleh perkebunan karet, sebagian besar penduduknya pun berprofesi sebagai petani karet.

Ketika program dimulai, SNV menemukan 39% penduduk Tanjung Sari yang berjumlah 9.800 KK masih buang air besar sembarangan (BABS). Artinya, 4 dari 10 keluarga yang tinggal di Tanjung Sari melakukan praktek BAB di kebun, sungai, dan kolam ikan.

Melalui pendekatan Sustainable Sanitation & Hygiene for All (SSH4A), SNV berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menerapkan 5 komponen pendekatan untuk memperbaiki kondisi sanitasi di Tanjung Sari. Pendekatannya yaitu Penciptaan Kebutuhan Sanitasi, Pemenuhan Suplai Sanitasi, Komunikasi Perubahan Perilaku, Tata Kelola Sanitasi, didukung komponen Pembelajaran dan Diseminasi.

Salah satu tantangan yang teridentifikasi di awal program adalah kurangnya alternatif produk dan layanan sanitasi yang sesuai kebutuhan dengan harga terjangkau. Oleh karenanya, melalui komponen SSH4A yakni Pemenuhan Suplai Sanitasi, SNV menawarkan pelatihan bagi tukang dan kader desa untuk produk sanitasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Tanjung Sari.

Kepala desa memainkan peran penting dalam komponen suplai ini. Berkoordinasi dengan SNV, akhirnya dipilih sebanyak 24 kader desa dengan keterampilan tukang untuk mengikuti pelatihan pembuatan dan perawatan produk sanitasi yang dilengkapi juga dengan materi tentang bisnis dan pemasaran.

Salah satu kader yang paling bersemangat adalah Pak Siman. Tidak hanya mengikuti pelatihan produk sanitasi, Siman juga mengikuti seluruh pelatihan komponen SSH4A dengan tekun.Pelatihan SNV menginspirasi Siman untuk melihat peluang besar dalam bisnis sanitasi.

Tidak hanya dari segi bisnis, tapi terlebih lagi nilai sosialnya. Dengan membuat dan memasarkan jamban yang harganya terjangkau, Pak Siman merasa telah membantu sesama. Berbekal keahlian hasil pelatihan, Siman  memulai bisnisnya di tahun 2016 dengan modal pribadi untuk membiayai kebutuhan produksi dan gaji karyawan.

Awal mula bisnis Siman bukannya tanpa hambatan. 8 bulan pertama dilalui tanpa pembeli. Namun, adanya 400 pesanan jamban dari Kodim menjadi angin segar bagi bisnis sanitasi Siman. Sejak itu, dia semakin giat membangun bisnisnya.

Siman pun aktif berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memicu dan memenuhi kebutuhan masyarakat, dia juga bermitra dengan Koperasi Wanita untuk menyediakan jamban di tempat umum dan fasilitas ibadah secara gratis. Dia pun bekerja sama dengan Kepala Desa untuk memasarkan produknya kepada masyarakat yang telah terpicu, semua dengan strategi mulut-ke-mulut.

Untuk menjamin kualitas produknya, Siman mengecek sendiri jamban yang diproduksi di bengkel samping rumahnya. Bahkan, Siman kerap  mengantarkan pesanan jamban sendiri kepada pembeli dengan truk sederhana miliknya. Dibantu 7 orang pekerja, Siman kini berhasil membantu desanya menjadi pionir Open Defecation Free (ODF) di Tanjung Sari

Kualitas jamban dari bengkel Pak Siman sangat baik, kuat, dan murah. Tidak ada komplain dari warga. Dengan bantuan Pak Siman, kami sangat bangga desa kami menjadi yang pertama ODF di Kecamatan Tanjung Sari.” kata Kepala Desa Wawasan

Dengan melatih Siman dan kader lainnya yang kemudian membangun bisnis sanitasi lokal, harga produk sanitasi akhirnya dapat ditekan hingga mencapai 60% dari harga pasaran, produknya pun sesuai dengan kebutuhan dan pilihan masyarakat. Siman bahkan masih bisa menyisihkan keuntungan untuk keberlanjutan bisnisnya.

Belajar dari kisah Pak Siman, pencapaian Kabupaten bahkan Provinsi ODF di tahun 2019 nampaknya bukan hal yang mustahil jika seluruh penggiat sanitasi memiliki semangat dan kegigihan seperti Pak Siman.

Seluruh Kecamatan Tanjung Sari kini sudah melakukan deklarasi ODF pada bulan Juli 2017. Usaha Siman juga tidak hanya berhentin di situ. Pasalnya, Siman menerima 23.000 pesanan jamban dari Pemerintah Kabupaten sebagai strategi memperluas bisnisnya ke kecamatan lain di Lampung Selatan, kabupaten, serta provinsi lainnya di Sumatera.

Seiring berkembanganya usaha, kini Siman juga mulai melebarkan saya bisnisnya dengan membuat wastafel, tangka septi dan jamban ramah anak. Semoga semangat Siman dapat menginpirasi kita semua.

Ditulis oleh: Saniya Niska-SNV