Human Centered Design atau HCD adalah salah satu jenis pendekatan yang saat ini sering digunakan untuk mendesain sebuah program. Pada awalnya, HCD lebih banyak digunakan oleh perusahaan for-profit untuk mendesain produk untuk dijual. Akan tetapi, saat ini pendekatan HCD juga telah banyak diaplikasikan oleh NGO maupun organisasi non-profit lainnya untuk mendesain sebuah program yang dapat memberikan dampak positif lebih besar dan sustainable bagi masyarakat, termasuk dalam sektor air minum dan penyehatan lingkungan. Negara-negara seperti Ethiopia, Filipina, India, dan Nepal sudah menerapkan pendekatan HCD untuk memecahkan masalah sanitasi.

Pendekatan HCD adalah sebuah cara berpikir dan penyelesaian masalah yang menempatkan orang-orang yang dilayani (target) dan stakeholder lainnya sebagai pusat dari proses desain dan implementasi program (USAID Global Health Bureau, Engage HCD). Dalam HCD, desainer melibatkan masyarakat (target program) untuk turut terlibat dalam proses mendesain dan memecahkan masalah karena terdapat kepercayaan bahwa masyarakat juga mempunyai potensi untuk memecahkan masalahnya sendiri. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam proses juga akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap program sehingga keberlanjutan program tersebut terjamin.

Dalam HCD terdapat tiga tahapan yaitu Inspiration, Ideation, dan Implementation. Pada fase Inspiration, desainer membuat formulir tantangan desain pada timnya untuk brainstorming sebelum turun ke lapangan. Masing-masing anggota tim akan mengisi form yang berisi pertanyaan-pertanyaan seperti; masalah apa yang ingin diselesaikan, dampak apa yang ingin dicapai, dan seterusnya.

Setelah itu, observasi aktif dilakukan. Desainer juga dapat mempraktikkan “mendengarkan aktif” inspirasi serta ide-ide dari target program. Terakhir adalah fase implementation, dimana solusi yang sudah dirancang bersama akan diplementasikan. Akan tetapi, implementasi program bukan berarti sempurna. Trial and error juga tidak lepas dalam pendekatan HCD. Akan tetapi, dengan HCD revisi dan perbaikan program dapat dilakukan dengan cepat.

Saat ini, pendekatan HCD juga dilakukan untuk Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) remaja. Pada bulan Oktober 2018 diselenggarakan pelatihan HCD untuk Manajemen Kebersihan Menstruasi di Tangerang. Mentor-mentor MKM di Tangerang belajar bagaimana cara mengaplikasikan pendekatan HCD yang melibatkan aktif remaja dalam segala prosesnya dari fasilitator UNICEF, Handa. Mentor diajak untuk mengerti dan mendalami bagaimana caranya melibatkan remaja untuk lebih sadar akan pentingnya MKM karena remaja memiliki bahasa sendiri dan sifatnya berbeda-beda. Salah satu metode dalam fase ideation yang disarankan adalah pembuatan kolase dari majalah bekas. Remaja ditantang untuk membuat solusi dari masalah dengan membuat kolase atau kliping. Menurut Handa, metode ini cukup efektif membuat remaja yang pendiam pun terlibat dalam proses.

Mentor-mentor mengaku mendapatkan banyak ilmu baru yang berharga dan akan mengaplikasikannya untuk mendesain program mengenai MKM yang lebih bagus untuk remaja-remaja di Tangerang.