Sanitasi sekolah  merupakan upaya terpadu dalam mengupayakan tersedianya sanitasi dasar di sekolah yang memungkinkan terwujudnya lingkungan belajar yang sehat. Sarana sanitasi mencakup antara lain  akses pada sumber air yang layak, jamban sehat yang terpisah secara gender, serta sarana cuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Sanitasi yang layak mendorong peningkatan kualitas pendidikan, kesetaraan gender dan keterlibatan peserta didik sebagai agen perubahan. Sanitasi sekolah juga sejalan dengan SDG tujuan 4 (pendidikan berkualitas), 5 (kesetaraan gender) dan 6 (air bersih dan sanitasi).

Meskipun demikian hingga akhir tahun 2018, kondisi sanitasi sekolah masih menjadi tantangan bagi beberapa kementerian terkait seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemendikbud memaparkan data Dapodik tahun 2016, bahwa baru 65% sekolah dasar di Indonesia memiliki akses pada air. Masih ada 12% sekolah di Indonesia yang jamban siswa siswi nya tidak terpisah. Rasio jamban pun masih memprihatinkan. Satu jamban untuk 117 siswi sementara satu jamban digunakan 122 siswa di Indonesia.

Hal ini mengemuka dalam Lokakarya Pembelajaran Integrasi Strategi Sanitasi Sekolah ke dalam Strategi Sanitasi Kab./Kota di Jakarta, pada 12 Desember 2018. Kasubdit Kelembagaan dan Sarana Prasarana, DIrektorat Pembinaan Sekolah Dasar, Kemendikbud, Drs. Bambang Hadi Waluyo, M.Pd. menyampaikan berbagai hal yang telah dicapai oleh Kemendikbud dan hal-hal lain yang memerlukan koordinasi dan kerjasama dengan stakeholder lain.

Dijelaskan bahwa akses terhadap air bersih merupakan tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah. Kemendikbud mengakui kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sehingga diperlukan koordinasi dengan pihak lain yang terkait. Selain itu tidak aktifnya program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) meski papan nama UKS terpasang di banyak sekolah.

“Diperlukan upaya penguatan kapasitas diantara penggerak UKS melalui pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan penciptaan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Selain itu, diperlukan upaya strategis agar sanitasi sekolah terintegrasi dalam UKS,” ujar Pak Bambang.

Kemendikbud sedang mengupayakan kelembagaan sanitasi sekolah dalam kerangka UKS melalui pengembangan kebijakan, koordinasi, perencanaan, pembiayaan, peningkatan kapasitas dan kegiatan monev. Roadmap pun dikembangkan mulai dari pengembangan sanitasi sekolah di 2016, target jangka pendek di 2019, target jangka menengah di 2024 dan target jangka panjang di 2030.

Target puncaknya adalah 100% kabupaten/kota memiliki rencana strategi pengembangan sanitasi sekolah, dengan target peningkatan prosentasi jamban layak, jamban terpisah dan rasio jamban laki pada 1:40 dan pada perempuan 1:25.

“Ini menjadi rencana kami kedepan. Kemendikbud sudah melakukan penguatan dan anggaran dalam item dana BOS. Namun, komponen lain yang tidak dapat dipenuhi Kemendikbud dapat dipenuhi oleh pihak lain. Inilah kerjasama dan sinergi yang baik,” tutupnya.