JAKARTA – Fokus pada anak perempuan, begitulah ambisi Plan International Indonesia 5 tahun ke depan untuk mencapai keadilan kesetaraan gender. 100 juta anak perempuan di dunia harus memperoleh hak pendidikan dan kesehatan, tutur Herie Ferdian dari Plan International Indonesia (15/03/2017).

Yang menjadi permasalahan anak perempuan khususnya ketika sudah menginjak usia remaja yaitu masa awal terjadinya menstruasi. Banyak anak tidak mengetahui sehingga merasa ketakutan dan malu apabila fase tersebut mereka alami untuk pertama kalinya. Hal ini  dikarenakan masyarakat belum sadar dengan menstruasi dan hal tersebut dianggap tabu untuk dibicarakan. Dalam acara lokakarya pertukaran pembelajaran Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di Hotel Manhattan Jakarta, 15 Maret 2017 yang diselenggarakan Jejaring AMPL, Annisa dari Unicef menyampaikan bahwa persoalan menstruasi butuh dukungan norma sosial dari masyarakat.

Plan International Indonesia juga ingin berkontribusi sesuai dengan SDGs nomor 5 di tingkat global akan mengembangkan indikator manajemen kebersihan menstruasi (MKM) programing dan wilayah sebagai pilot project. Indikator ini sudah diujicobakan, salah satunya yaitu fasilitas di sekolah yang ramah perempuan, toilet terpisah antara murid laki-laki dan perempuan, ada tempat sampah di toilet, ada sarana cuci tangan di dekat toilet dan ada pembalut siap pakai di toilet perempuan. Indikator itu merupakan hak perempuan dalam fasilitas terkait kebutuhan menstruasi.

“Kami sedang merintis MKM di perkotaan, melihat pembelajaran MKM di desa dan kota yang sangat berbeda,” tegas Herie. Agenda selanjutnya, MKM perlu dibuatkan payung hukum melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai misi advokasi nasional. “Aksi ini akan dilakukan oleh Plan International Indonesia bekerjasama dengan Unicef dan Jejaring AMPL dengan mitra-mitra lain  yang telah berkomitmen”, demikian disampaikan oleh Herie pada lokakarya pertukaran pembelajaran MKM tersebut.