Data Pokok Pendidikan (Dapodik) diolah Unicef tahun 2017, menunjukkan bahwa 1 dari 3 sekolah dasar (SD) di Indonesia tidak memiliki akses air. Kemudian, 13,09% atau 25.835 SD di Indonesia tidak memiliki jamban dan 35,19% atau 75.193 SD juga tidak memiliki sarana cuci tangan. Bahkan, 1 dari 2 SD di Indonesia tidak memiliki jamban terpisah antara siswa laki-laki dan siswi perempuan.

Dalam pertemuan pembahasan hasil kegiatan Water, Sanitation, & Hygiene in School International Learning Exchange (WinS ILE), Zulkarnaen Haryo Nugroho, perwakilan Sekretariat Direktorat Jenderal PAUD, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan bahwa kondisi itulah yang menjadi salah satu alasan Indonesia diundang untuk mengikuti pertemuan WinS ILE di Manila pada 11 November 2019 lalu.

Sejak pertama kali diselenggarakan tahun 2012, WinS ILE merupakan wadah pertukaran informasi dan pembelajaran antar negara Asia dan Pasifik yang fokus pada isu SDGs Tujuan 4 yaitu Pendidikan Berkualitas, SDGs 5 tentang Kesetaraan Gender, dan SDGs Tujuan 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi yang didukung oleh UNICEF dan GIZ. 

“Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk menghasilkan momentum dan komitmen politik untuk mempercepat kemajuan sektor air, sanitasi dan kebersihan di sekolah-sekolah yang ada di kawasan Asia Pasifik,” kata Zul dalam paparannya. Di acara WinS ILE ke-7 ini setidaknya ada 16 negara yang diundang, termasuk Indonesia.

Menurut Zul, kondisi capaian indikator sanitasi sekolah di Indonesia dari tahun ke tahun sebenarnya telah mengalami peningkatan.  Dari presentasi yang ditampilkan diperlihatkan bahwa, capaian akses dasar air bersih masih di posisi 64,76% pada 2017 dan meningkat menjadi 77,5% di 2019, sementara untuk capaian akses sanitasi meningkat dari 31,4% di 2017 menjadi 40,03% di 2019. Kondisi ini juga diikuti oleh peningkatan kondisi kebersihan di sekolah dari 65,1% di 2017 menjadi 50,8% di 2019.

“Keseluruhan peningkatan yang sudah ada di Indonesia ini mendapat apresiasi dari negara lain, karena diketahui  bahwa jumlah sekolah, peserta didik, juga guru kita yang sangat banyak,”tambah Zul. Berdasarkan data Kemendikbud diketahui bahwa Indonesia memiliki 270.393 sekolah dan madrasah, 44.857.295 peserta didik, dan 3.453.357 guru, yang mana jumlah ini sangat jauh lebih banyak bila dibandingkan negara lain yang juga turut di undang dalam WinS ILE 2019.

Kendati demikian, bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, capaian kita untuk sektor air bersih, sanitasi, dan kebersihan di sekolah masih sangat jauh. Untuk itu, peningkatan upaya melalui berbagai cara, termasuk memperkuat koordinasi seluruh pihak terkait sangatlah penting. Terlebih akses terhadap ketiga sektor tersebut adalah hak setiap pelajar yang harus dipenuhi.

Di akhir paparannya, Zul juga menyebutkan beberapa saran yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan kondisi sanitasi sekolah di Indonesia, di antaranya adalah perlunya ditinjau kembali data Dapodik, karena data yang akuntabel diyakini dapat mendorong munculnya kebijakan untuk memprioritaskan program UKS di tingkat pusat maupun daerah. Kemudian, disarankan juga untuk menambahkan Manajemen Kebersihan dan Kesehatan Menstruasi ke dalam instrumen Dapodik. Alasannya karena kesehatan reproduksi berhubungan dengan ketidakhadiran siswa perempuan pada jam pelajaran. Terakhir, disarankan untuk mengintegrasikan sistem pemantauan sanitasi sekolah antara sektor kesehatan dan pendidikan, sehingga data sanitasi sekolah dapat diverifikasi sanitariam.

“Harapannya, semua saran ini bisa dijalankan dan akhirnya kondisi sanitasi di sekolah akan semakin baik ke depannya,” pungkas Zul.