TANGERANG – Pada tanggal 5 Maret 2019, perwakilan dari UNICEF Jepang dan PT KAO Jepang mengadakan kunjungan ke Kabupaten Tangerang dalam rangka melihat kemajuan program Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM). Kabupaten Tangerang merupakan daerah bimbingan UNICEF untuk program MKM dan telah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam meningkatkan kesadaran guru dan siswa akan pentingnya MKM di sekolah sebagai pilot model. Saat ini ada 8 orang mentor MKM yang telah diberikan pelatihan oleh UNICEF dan kedepannya mentor-mentor tersebut akan melatih guru-guru di 40 sekolah di Tangerang mengenai MKM.

Datang sebagai perwakilan dari UNICEF Jepang adalah Otsuka Madoka selaku Manajer Group and Corporate Donor Relations. Sedangkan perwakilan dari PT KAO Jepang adalah Ichikawa Yukako dan Nakayama Kyoko dari ESG Promotion Department. Mereka didampingi oleh tim dari UNICEF Indonesia dan SPEAK. Kunjungan pertama tim yaitu ke Kantor Bupati Tangerang diterima oleh Kepala Dinas Pendidikan Dr H Hadisa Masyhur. Sebagai pembuka acara, Hadisa memberikan sambutan dan pengantar tentang kondisi kabupaten Tangerang. Hadisa setuju bahwa menstruasi bukanlah hal yang tabu. Setelah itu, Reza selaku WASH Specialist UNICEF Indonesia memberikan presentasi singkat tentang perkembangan program MKM di Tangerang.  Saat ini sedang dilangsungkan juga program MKM menggunakan pendekatan Human Centered Development (HCD) untuk mengembangkan media MKM baru untuk murid SMP dan anak-anak out of school.

Perwakilan dari PT KAO Jepang, Imamura dan Nakayama juga memberikan presentasi mengenai PT KAO dan sejarah MKM di Jepang. Produk-produk KAO semuanya berhubungan dengan kesehatan dan hygiene sehingga isu hygiene sangat penting bagi perusahaan. KAO berharap pilot model di Tangerang dapat memberikan dampak positif bagi program MKM di Indonesia serta dapat direplikasi ke Negara-negara lain. Mengenai sejarah MKM di Jepang sendiri, ternyata pendidikan MKM sudah dimulai sejak tahun 1900an. Sayangnya sampai akhir tahun 1900an Stasiun TV di Jepang mempunyai peraturan sensor yang cukup ketat sehingga iklan maupun siaran yang berhubungan dengan menstruasi dilarang tayang. Baru setelah revolusi industri Jepang menjadi lebih maju dan ada kesetaraan gender sehingga menstruasi dianggap sebagai hal yang lebih normal. Pada tahun 1961, di Jepang sudah ada tempat pembuangan khusus untuk pembalut dan menstruasi sudah tidak dianggap sebagai hal yang memalukan lagi.

MKM di Jepang diintegrasikan dengan pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), dan diberikan ke anak-anak berusia 9 sampai 15 tahun sejak tahun 1978. Penjaskes di Jepang dibagi menjadi dua materi yaitu tentang kesehatan dan pendidikan seksual. Pendidikan ini dimulai sejak kelas 4 SD untuk mempersiapkan anak-anak bagaimana apabila tubuhnya berubah saat pubertas. Salah satu produk KAO yang berhubungan dengan MKM adalah produk pembalut dengan brand Laurier. Laurier sudah masuk ke Indonesia pada tahun 1989. Di Jepang, Laurier juga turut berkontribusi pada pendidikan menstruasi dengan membagian paket-paket berisi pembalut, panty liner, dan buklet tentang menstruasi ke sekolah-sekolah. Total ada 20 ribu anak usia sekolah dasar yang diberikan paket edukasi ini oleh KAO. Hal ini untuk mencegah agar anak-anak di Jepang tidak mendapat informasi yang salah dari internet.

Untuk mendistribusikan paket-paket ini KAO bekerjasama dengan Japan Society for School Health (JSSH). JSSH akhirnya juga telah memberikan sertifikasi kepada produk KAO sebagai produk yang cocok untuk program kesehatan sekolah. Hingga saat ini baru KAO yang berinisiatif memberikan paket edukasi ke anak-anak sekolah.

Pihak pemerintah kabupaten Tangerang yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan sangat mengapresiasi program-program PT KAO Jepang untuk MKM dan berharap KAO dapat membuat program yang sama di sekolah-sekolah di  Tangerang. Masukan ini sudah ditampung dan akan diteruskan ke pihak KAO Indonesia.  Selanjutnya, tim dari Jepang juga mengadakan kunjungan ke MTsN 2 Tangerang, SMPN 3 Tigaraksa yang merupakan sekolah pilot model program MKM, dan terakhir ke Sanimas Kabupaten Tangerang. Tim dari Jepang  sangat terkesan dengan perkembangan MKM di sekolah-sekolah di Tangerang dan berharap program tersebut dapat berkembang ke daerah-daerah lain juga di Indonesia.