Sejak tahun 2017, Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) telah secara rutin memperingati Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia (Menstrual Hygiene Day/MHD) yang jatuh pada tanggal 28 Mei setiap tahunnya. Berbeda dari tahun sebelumnya yang fokus pada isu-isu seputar masih rendahnya edukasi dan keterbatasan sarana dan prasarana MKM, pada peringatan MHD 2021 ini Jejaring AMPL mencoba mengangkat isu tentang keterkaitan edukasi MKM dengan tingginya angka perkawinan anak.  

Berdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2018, ditemukan fakta bahwa 1 dari 9 perempuan Indonesia yang berusia 20-24 tahun telah menikah pada usia anak. Pada tahun 2018 tercatat 1,2 juta kasus perkawinan anak, sehingga menempatkan Indonesia berada pada posisi kedua di ASEAN dan ketujuh di dunia sebagai negara dengan angka perkawinan anak paling tinggi. 

Keterkaitan kedua isu ini dilandasi oleh Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), 2017, yang menyatakan bahwa, satu dari empat anak perempuan nyatanya tidak memiliki informasi apapun mengenai kesehatan dan kebersihan menstruasi, sebelum mereka mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. 

Fakta ini menyebabkan, banyaknya anak perempuan yang tidak siap, kaget, serta takut ketika mereka mengalami menstruasi untuk pertama kali (menarche). Selain itu, rendahnya informasi dan edukasi MKM juga menyebabkan masih banyak terjadinya  kasus perundungan terhadap anak perempuan ketika mengalami menstruasi. 

Bahkan, kondisi itu pun disinyalir berdampak terhadap persepsi perkawinan anak. Dari semua kondisi yang telah dipaparkan, diyakini bahwa salah satu upaya untuk menurunkan perkawinan anak adalah dengan melakukan edukasi yang komprehensif tentang kesehatan dan kebersihan menstruasi kepada semua pihak.  

Berangkat dari itu, pada MHD 2021 ini  Jejaring AMPL mengangkat tema “Edukasi Manajemen Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi, Upaya Menurunkan Angka Perkawinan Anak: Remaja Berprestasi, Hindari Nikah Usia Anak” yang dikemas melalui tiga kegiatan diskusi daring menarik yaitu “Kumpul Remaja Ngobrolin Menstruasi”, “Advokasi MKM dan Pencegahan Perkawinan Anak”, dan “Virtual Period Party” yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Mei 2021. 

Keseluruhan kegiatan peringatan MHD 2021 dilakukan secara daring dikarenakan masih adanya aturan pembatasan ruang gerak akibat pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia. Adapun tujuan dari seluruh rangkaian kegiatan MHD 2021 ini ialah untuk meningkatkan kepedulian, dukungan, dan keterlibatan semua pihak dalam mendukung implementasi Manajemen Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai salah satu upaya mengurangi angka perkawinan anak.

Pada agenda kegiatan pertama, yaitu Kumpul Remaja Ngobrolin Menstruasi yang diadakan pada tanggal 27 Mei 2021 disampaikan pentingnya keterlibatan para remaja, baik remaja perempuan maupun remaja laki-laki untuk menyebarluaskan edukasi MKM kepada semua pihak, termasuk masyarakat. 

Pada sesi pembukaan oleh Ketua Jejaring AMPL Nasional, Laisa Wahanudin menyampaikan bahwa sebagai calon generasi penerus bangsa, para remaja harus membekali diri dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan produktif agar bisa mengembangkan diri mereka masing-masing. Harapannya dengan para remaja yang produktif, maka angka perkawinan anak bisa diminimalisir, sehingga Indonesia bisa memiliki calon generasi penerus yang berkualitas. 

Untuk meningkatkan peran aktif remaja dalam edukasi MKM dan juga pencegahan perkawinan anak, pada kegiatan ini juga diadakan sesi berbagi pembelajaran yang disampaikan oleh sejumlah perwakilan komunitas remaja, diantaranya seperti Ayi Erdian dari Palang Merah Indonesia (PMI-Youth Centre), Dicky Alfandy dari Youth with Sanitation Concern di Lampung, dan Fikri dari Forum Mahasiswa Peduli Kesehatan Reproduksi Remaja (Rumpan Universitas Indonesia).  Pada sesi tersebut, para narasumber menceritakan tentang aksi dan peran aktif yang pernah dan sedang mereka lakukan untuk edukasi MKM kepada pemuda dan remaja.  

Cerita yang disampaikan para narasumber ini pun cukup beragam. Mulai dari memaparkan aksi dan upaya yang mereka lakukan, menjelaskan tentang cara menghadapi tantangan dalam melaksanakan kegiatan edukasi MKM, serta berbagai pembelajaran menarik lainnya seperti melakukan kolaborasi edukasi MKM dengan lembaga pemuda lainnya atau dengan pemerintah daerah, serta menyiapkan sarana edukasi yang seru seperti MONOMENS (monopoli menstruasi) dan OKEMEN (Opera Edukasi Menstruasi).

Tak kalah menarik dengan kegiatan berbagai pembelajaran yang disampaikan oleh para perwakilan dari komunitas remaja, pada acara Kumpul Remaja Ngobrolin Menstruasi ini para peserta yang sebagian besar remaja juga diberikan edukasi mengenai seberapa pentingnya peran mereka dalam mendukung edukasi MKM.

Pada sesi talk show yang dimoderatori oleh perwakilan SNV, Putri Sortaria, disampaikan bahwa edukasi MKM seharusnya sudah menjadi informasi mutlak yang dimiliki remaja. Berangkat dari itu, keterlibatan mereka dalam mengedukasi banyak pihak menjadi bagian penting untuk mendukung sosialiasi isu ini kepada para pihak terkait, terutama teman-teman sebayanya.

Narasumber pada talk show ini adalah Derry Fachrizal Ulum, Child Protection Specialist UNICEF, Agna Sekar dari Forum Anak Desa Sukaraja, Sukabumi, dan Dhea Seto, Influencer Muda Pelaku Seni Tari dan Peran. 

Pada talk show tersebut, Derry, Child Protection Specialist UNICEF menyatakan bahwa tingginya populasi anak muda di Indonesia tentunya merupakan suatu potensi besar yang harus dijaga dengan baik. 

“Sebagai generasi penerus, tentunya para remaja ini tidak boleh tumbuh lemah. Jika ketika pubertas pikiran remaja sudah menuju ke pernikahan untuk membangun rumah tangga bersama dengan pasangannya, maka sebenarnya itu adalah kebahagian semu yang tidak dipikirkan secara matang. Pasalnya dalam membangun rumah tangga tidak hanya diperlukan kesiapan fisik, namun juga dibutuhkan kedewasaan mental/psikologi,” ujarnya.

Menurut Derry, edukasi terhadap isu MKM menjadi penting sebagai salah satu upaya pencegahan perkawinan anak. Dalam isu MKM, seseorang bisa mengetahui informasi seputar pubertas, pengelolaan menstruasi yang baik, hingga informasi seputar mitos-mitos yang hingga kini masih kerap menghambat aktivitas para perempuan saat mengalami menstruasi.

“Hasil survey membuktikan bahwa hanya 50% anak perempuan yang mengetahui bahwa dirinya bisa hamil apabila sudah mengalami menstruasi. Peran public figure sebagai sumber informasi tentang MKM perlu dimaksimalkan, sehingga lebih banyak pihak yang sadar akan pentingnya MKM. Publik figure disini bukan hanya dari kalangan artis, namun juga bisa dari datang dari individu-individu yang peduli akan kebersihan dan kesehatan menstruasi, ”tambah Derry.

Sementara itu, Agna Sekar, perwakilan dari forum anak memaparkan bahwa bukan hanya berpengaruh terhadap pendidikan, ekonomi, dan sosial, perkawinan anak ini juga dapat berdampak pada kesehatan dan perkembangan psikis remaja. “Tanpa praktek perkawinan anak, para anak dan remaja seharusnya bisa lebih bebas mengekspresikan diri mereka melalui beragam kegiatan produktif sesuai dengan minat masing-masing remaja,” katanya

Dhea Seto, sebagai salah satu influencer remaja mengatakan bahwa, edukasi MKM bukan hanya membuat dirinya menjadi mengerti informasi seputar kesehatan dan kebersihan menstruasi, namun juga dapat mengetahui informasi lain seperti rumitosseputar menstruasi, asupan makanan bergizi, organ reproduksi, hingga edukasi terkait pubertas.

Terkait perkawinan anak, Dhea berpendapat bahwa masa remaja sebaiknya dimanfaatkan untuk mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai aktivitas yang digemari. “Karena bukan hanya bisa menambah teman dan keahlian, dengan menjadi remaja produktif tentunya akan banyak keuntungan yang kita dapat baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Tidak hanya sekadar berbagai cerita, pembelajaran, dan edukasi seputar isu MKM dan perkawinan anak saja, acara Kumpul Remaja Ngobrolin Menstruasi ini juga dimeriahkan dengan sesi tanya jawab, pembagian hadiah, serta penyusunan call for action tekait rencana ke depan setiap komunitas untuk mendukung edukasi MKM.

Acara yang berlangsung selama 3 jam ini setidaknya dihadiri oleh sebanyak 102 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas remaja, pelajar, pengajar/guru, serta pegiat isu MKM.